OKY REY MONTHA web 9
OKY REY MONTHA web 10
OKY REY MONTHA web 8
OKY REY MONTHA web 7
OKY REY MONTHA web 6
OKY REY MONTHA web 5
OKY REY MONTHA web 1
OKY REY MONTHA web 4
OKY REY MONTHA web 2
OKY REY MONTHA web 3

NOTE FROM THE DARKNESS

MUEIN

AC Andre Tanama

 

Satu dasawarsa telah berlalu sejak pameran tunggal perdana Oky Rey Montha Bukit bertajuk Evorah (Evil of Rabbit Head) di Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta (2010). Entah sejak beberapa tahun lalu—yang jelas, kini—art space itu sudah tiada. Galeri atau art space baru sering bermunculan bagai cendawan di musim hujan, lantas tenggelam dan mati perlahan. Bahkan, seniman tutup usia pun tiada bisa dihindarkan. Takdir hidup dan mati perlu dilakoni, tak lain tak bukan dengan mencintai—amor fati.

Yang tersisa adalah sejarah, pikiran, dan seni. Tertulis adagium dalam bahasa Latin yang terkenal: Ars longa vita brevis. Seni memiliki hidup lebih panjang (abadi) ketimbang hidup manusia atau seniman yang singkat. Sebagian orang menganggap seni adalah karya seni. Bagi saya, seni adalah seni itu sendiri. Seni adalah jiwa yang sarat rasa syukur. Sebab jika seni sekadar dianggap artefak atau karya seni belaka (bendawi), maka ia tak abadi. Karya seni secara bendawi bisa rusak, musnah, sirna oleh alam (api, air, udara, tanah) dan bahkan tunduk di bawah serangan iseptora atau koloni rayap. Namun, nilai-nilai dan jiwa yang termanifestasi dalam karya seni akan masih abadi—hal itu jika manusia masih merawat ingatan. Dan, Kyre (sapaan akrab bagi Oky Rey Montha) masih ada dan masih berkarya seni hingga kini.

Sembilan tahun lebih telah berlalu sejak saya menulis pameran tunggal kedua Kyre bertajuk Kyrelogi (2011) di Galeri Canna, Jakarta (kini bernama CAN’s Gallery). Kyrelogi sembilan tahun yang lalu itu tercatat sebagai debut pertama Kyre berpameran tunggal di Jakarta. Perdana dan membahana—kerja sama Kyre dan CAN’s Gallery saya nilai berjaya. Penilaian saya itu barangkali bisa dianggap gombal, namun percayalah bahwa saya menyampaikan penilaian faktual. Sebab, toh semua bisa dikroscek berdasarkan data maupun jejak digital. Terlebih lagi, perihal yang berkaitan dengan seni visual dan segala aspek yang berperan untuk mendukung presentasinya, semua bisa diperiksa oleh daya inderawi kita. Secara keseluruhan dalam perjalanan berpameran Kyre, pameran ini adalah pameran tunggal Kyre yang ke-9. Pameran ke-9 ini menunjukkan kembali kerja sama yang baik antara seniman dan galeri. CAN’s Gallery bisa merealisasikan visinya dalam memperjuangkan perkembangan seni rupa Indonesia, yakni dengan memediasi dan mengembangkan karier seniman secara lebih luas. Perihal itu pun terbukti, salah satunya lantaran kerja sama yang dijalin oleh Kyre dan CAN’s Gallery secara nyata masih berkesinambungan di pameran tunggal ini. Sudah ada 5 (lima) kali wujud kerja sama antara CAN’s Gallery dengan Kyre melalui pameran tunggal dan presentasi khusus dalam art fair. Pameran tunggal Oky Rey Montha yang bekerja sama dengan CAN’s Gallery antara lain: Kyrelogi (2011), BrigittaQueen (2013), RhythmofChaos (2018), dan pameran ini—Note from The Darkness (2020). Lantas ada pula kerjasama berupa presentasi khusus Kyre bertajuk Blackpawn Conspiracy (2014) di Art Stage Singapore.

Apa yang pernah saya tulis untuk Kyre sembilan tahun yang lalu tentu tak mungkin serupa dengan tulisan saya sekarang. Mengenai kurun waktu sembilan tahun ini, saya tak ingin memaknainya sekadar sebagai jarak waktu yang panjang atau pendek sebab hal itu relatif. Sebab sembilan tahun bisa dikatakan sebagai jarak waktu yang panjang atau lama, jika masing-masing di antara kami hanya saling menunggu sambil rebahan, makan camilan, dan larut dalam penantian. Tetapi, kami bukanlah pasangan yang saling merindukan seperti pernah dinyanyikan oleh almarhum Didi Kempot ketika Sri minggat, lunga ora pamit, dan ora ndang bali. Kami masing-masing tidak ada yang minggat, namun kami masih saling ingat dan ingatan kami rawat. Jika kami masing-masing pergi pun pamit, meskipun tanpa ucapan berkomat-kamit. Dan yang jelas, kami pasti segera kembali, oleh karena seni itu sendiri. Kini, kami kembali bersua di tengah suasana pandemi korona.

Perbedaan kurun waktu tentu memiliki tujuan dalam berkarya seni.  Tujuan melukis hari ini sangat mungkin berbeda dengan tujuan melukis pada kurun waktu sebelumnya maupun sesudahnya. Kyre pun demikian, tujuan berkaryanya tidak selalu sama. Dinamika kehidupan serta peristiwa setiap detik, menit, jam, hari, bahkan memengaruhi dinamika proses kreatifnya.

Tak jarang Kyre melukis sesuatu yang tidak bisa dia lihat dan dilakukannya secara riil. Hal-hal yang bersifat surealistik (atau bahkan absurd), jejak-jejak mimpi, pengalaman batin serta suasana hati, semua itu pun penting diwujudkan dalam karya-karyanya. Bahkan, bisa saja penuangan secara visual hanya bertujuan untuk melatih skill atau keterampilan berkarya secara teknis. Bagi saya, perihal kejujuran yang disebut terakhir itu pun dapat dimaknai. Sebab, tiada yang salah jika salah satu tujuan berkarya ialah untuk melatih skill melukis. Saya mengamati, perihal tujuan seperti itu sesungguhnya banyak dilakukan oleh beberapa perupa. Hanya saja kejujuran mengakuinya dianggap tabu, lantas dibumbui dengan berbagai bualan dan omong kosong belaka. Kyre justru jujur mengatakan tujuan berkaryanya. Namun, lagi-lagi, sebagai seseorang yang cukup memahaminya, izinkanlah saya untuk tak buru-buru memercayainya. Barangkali benar, bahwa tujuan Kyre melukis ialah untuk melatih skill melukis, tapi pasti itu bukanlah sekadarnya. Sebab di dalam proses melukis yang bersifat teknis pun terkandung falsafah yang memadukan pemikiran serta intuisi, kendati hal itu kerap tidak disadari oleh seniman.

Saya tadi mengatakan ketidakpercayaan atas tujuan melukis seorang Kyre hanya untuk melatih skill belaka. Perkataan itu tentu beralasan, apalagi mengingat ia tetap berjuang berkarya seni di tengah suasana wabah COVID-19 melanda dunia. Apabila Kyre saya umpamakan sebagai seorang pirate, tentu ia dipaksa masuk ke dalam “wilayah” yang lain—seperti halnya kita semua yang memasuki era wabah maupun ujian hidup lainnya. Mau tak mau, Kyre sebagai pirate sedikit membelokkan arah kapal menuju wilayah yang tidak biasa, yang kita semua (termasuk Kyre sendiri) tak mengetahui wilayah itu sebelumnya. Pada proses itulah, petualangan baru bersama Kyre—melalui serangkaian karya-karyanya—segera kita mulai.

Sabermula, tiada yang menduga sebelumnya, terdengar berita mengenai virus korona terkini melanda kota Wuhan di Cina. Arogansi dan anggapan bahwa yang terjadi nun jauh di sana tak mungkin melanda diri kita telah mengoyak-koyak akal sehat. Padahal, jika kita memercayai bahwa segala sesuatu di jagad ini adalah jejaring yang saling terhubung, maka akan muncul sikap eling lan waspada (ingat/sadar dan mawas diri). Pemberitaan mengenai COVID-19 menyebar cepat oleh karena kemajuan teknologi. Sementara sebagian orang masih ber-hahahihidan memunculkan pelbagai opini yang tak pasti. Antara yang fakta dan hoax pun kabur batasannya. Hingga akhirnya, virus itu menyebar begitu cepat. COVID-19 benar-benar masuk ke Indonesia dan beberapa negara lain di dunia. Dalam sebuah risalah, Kyre menuliskan demikian:

Saya ingat benar, sekitar Februari 2020 virus corona mulai diisukan menyebar ke Indonesia. Berbagai berita dari twitter, facebook, instagram dan media sosial lainnya beredar simpang siur, membuat masyarakat mulai serius berpikir.

Ketika itu, sebagian dari kita semua (termasuk Kyre) terpaksa harus di rumah saja. Tinggal di dalam rumah menjadi keniscayaan demi kesehatan, keamanan, dan keselamatan. Namun, kita bisa berada di rumah saja lantaran ada mereka yang mau tak mau harus berada di luar rumah. Bahkan mereka yang berada di luar rumah pun demi menyelamatkan diri dan hidup keluarga mereka. Pada masa awal pandemik itulah karya DeerHunter (2020) tercipta diiringi risalah dari Kyre.

Beberapa kardus berisi mainan lama dan setumpuk buku cerita yang masih dibungkus plastik dengan rapi mulai aku buka. Mungkin ini waktunya kita berteman. dan mainan-mainan itu, aku rindu kalian. Aku akan menyiapkan tempat yang bagus untuk kita bermain. Mungkin akan ada beberapa teman baru yang akan menyusul. Seorang sahabat dekat memberikannya untukku. Aku tidak yakin dia memberikannya dengan suka rela. Tapi tenang, ada harga khusus untuk saat ini.

Hari semakin sore, sayup-sayup bunyi mangkok dengan irama yang khas mulai semakin jelas terdengar. Kuintip dari balik tirai jendela. Pedagang bakso keliling seperti biasa lewat dengan santai. Dan dia tidak menutup wajahnya.

Penyebaran virus korona yang kian meningkat dan lonjakan jumlah korban mengingatkan Kyre pada film yang dibintangi Will Smith, I Am Legend (2007). Apa yang pernah Kyre cerap dari film sains fiksi horor tersebut turut mengejawantah menjadi mood yang dibawa merasuk ke dalam karya Deer Hunter.

Suasana hati kala di rumah saja selama beberapa lama tentu membuat seseorang mengalami kebosanan. Kyre tak ingin terjebak menjadi manusia purba atau laksana Homo Erectus Sewonensis di dalam gua yang dikepung dunia maya. Ia pun sempat menilik ke luar rumah. Ternyata semua tampak senyap. Kesedihan pun menyeruak, sebab apa yang diamatinya kala itu sungguh tak seperti biasanya. Mengenai hal itu, Kyre melahirkan karyaDancing In The Dark, lantas ia menuturkan demikian:

Jalanan menjadi sepi Akhirnya, kemarin mereka berteriak untuk di rumah saja. Dan kurebahkan tubuh untuk membuka jendela dunia, seperti biasanya. Kulihat banyak yang menari, bermain, berolahraga, tertawa di rumah mereka sendiri. Sekilas tampak begitu hangat. Tapi perlqahan-lahan menjadi miris. Sekali lagi aku mengintip di balik tirai jendela. Tiada seorang pun di sana, bahkan sebelum malam tiba. Pikiranku melayang ke masa lalu, ke rumah kampung halamanku, kembali ke ritual adat kematian ayahku. Aku ikut menari seperti orang-orang yang hadir di acara itu. Menari sembari bergumam, bergumam dengan uneg-uneg serta harapanku dan mereka, menari sembari menangisi kepergiannya. Tarian untuk melepas sesak dalam kesedihan. Seperti saat ini.

Perasaan yang tidak selalu sama hadir dalam setiap menit bahkan detik. Misalnya, rasa takut akan virus yang mematikan. Hal itu menjadi tampak manusiawi, sebab kesadaran akanpelbagai hal di sekitar diri akan memengaruhi atau memicu proteksi di dalam diri. Secara jujur Kyre mengungkapkan perihal perasaan takut itu melalui karya God I Am Scare (2020). Sebab ia pun sadar, bahwa dirinya—bahkan termasuk kita semua—sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, bukan?

Masing-masing orang mulai karantina di rumah masing-masing. Siang berganti malam lantas kembali lagi mentari bersinar sebelum akan tenggelam seperti biasanya. Lupa akan hari sudah menjadi hal baru sehari-hari. Dalam kondisi sangat lama terpenjara dalam rumah sendiri, kita semua tentu tertekan, meski prosentase ketertekanan setiap orang berbeda-beda. Rasa takut, emosi amarah, rasa jenuh dan lelah membuat diri tidak bisa berpikir dengan jernih. Tentu, itu Kyre sadari dan ia tidak mau terjebak pada hal itu. Membayangkan hal-hal yang ideal nan menyenangkan, terkadang perlu dilakukan. Kyre dalam alam pikiran pun membayangkan Quarantine 1 & 2 demikian: Dinding-dinding rumah ini terasa semakin sempit. Terus menyempit dan semakin gelap. Dudukku tidak lagi nyaman. Kutoleh kiri dan kanan tidak ada yang berubah. Aku tutup telinga, aku tak mau mendengar apapun lagi. Takut dan marah melahirkan rasa bosan. Aku sudah lelah. Mataku yang sudah sayu mulai terbuka, karena genangan air biru di tembok itu terlihat segar sekali. Ku usap sekali lagi mataku. Aku ada di sana, duduk di sebuah kursi di lautan biru yang sangat luas. Langit sedang cerah-cerahnya. Bunga-bunga tumbuh dengan cepat, ratusan kupu-kupu mendekat dan melengkapi kesegaran itu. Aku tak kuat lagi. Ingin sekali kusentuh dan kusirami bunga itu. Bunga dari delusi. Ya, aku tahu... tapi aku tak mau tahu. Aku ingin di situ saja.

Jika diamati cermat, masing-masing karya Kyre di atas (karya I—IV), satu sama lain tiada yang sama. Begitu pula bila dibandingkan dengan karya-karya berikutnya (karya V—IX). Dalam konteks pendidikan seni, saya mengamati bahwa dalam proses kreatif Kyre kali ini membuka peluang serta memberikan alternatif metode penciptaan seni yang ditawarkan di tengah pandemi. Satu karya dengan karya lainnya berbeda mood. Melalui karya God I Am Scare, tetiba karya menjadi tampak feminim dengan nuansa pink, lantas karya Dancing In The Dark yang memiliki corak kutural. Sementara hal-hal yang delusif terwujud dalam karya Quarantine 1 & 2, berlanjut pada upaya Kyre menghindari kegelapan karya (dan mencari mood menyenangkan) tampak bisa disaksikan pada karya Summer Mood (2020). Tak lupa juga persoalan mengenai masker yang hadir di karya Should I (2020). Kala semua gejolak itu belum tuntas, tetiba Kyre dihadapkan pada kondisi yang semakin membuatnya harus berpikir lebih keras lagi dalam keadaan panik. Hal itu terjadi ketika sigaraning nyawa/garwa-nya Kyre, yakni Verena yang tengah berbadan dua mengalami jatuh sakit. Peristiwa itu pun tak luput termanifestasikan dalam karya Keep Calm and Cool (2020). Dalam keadaan seperti itu, harapan untuk tetap dalam keadaan baik, berpikir tenang, adem, jernih, sangat diperlukan, agar bisa mendapatkan jawaban yang jitu. Pemaknaan Kyre atas pose dab style saat Mauz rodeo inilah inti dari segenap kesimpulan atas semua karya berkenaan dengan situasi jiwa dan pandemik COVID-19 ini. Pun pada gilirannya, Kyre memetik buah pengetahuan bahwa keyakinan menjadi obat terbaik, bagi kesehatan mental maupun fisik. Dalam karya berjudul Survivor (2020), kehidupan yang berdampingan dengan alam menjadi sebuah pembelajaran bagi kita semua. Dan pada akhirnya, karya berjudul Fear Symphony (2020) bagi seniman sendiri, mau tak mau perlu diimbangi dengan konsentrasi selama ini dalam berkarya. Betapapun peristiwa itu sarat kengerian,sesungguhnya tetap mampu direspon. Sebab apa pun itu dapat diartikulasikan secara jitu menjadi sebuah karya seni. Pada titik itulah, alur serta mood dalam karya Kyre yang dinamis—tidak linier, ini memberikan kontribusi bagi metode penciptaan seni.

Ada satu hal lagi yang menarik bagi saya. Seperti sudah diketahui bersama, bahwa apresiasi yang muncul ketika karya berada di dalam ruang pamer galeri ialah sepenuhnya bebas di alam pikiran audiens. Kali ini metode presentasi yang lebih interaktif dibangun oleh Kyre melalui pendekatan media sosial. Di ruang yang lain, yakni di media sosial instagram, Kyre selaku seniman menawarkan perspektif personal yang riil ingin disampaikan sebagai bagian dari satu kesatuan karya. Sehingga sangat terbuka unteraksi antara netizen dengan seniman. Hal itu juga memunculkan partisipasi dan apresiasi. Seturut pernah ditulis oleh Walter Benjamin bahwa reproduksi mekanis seni mengubah reaksi massa terhadap seni dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam resepsi maupun apresiasinya.

Pameran tunggal kesembilan oleh Kyre kali ini tak sekadar berlandasan masalah, namun juga parodi atas perilaku kita dalam upaya “membunuh waktu” kala pandemi, efek psikis (mental), bagaimana media sosial menanggapi problem kejadian hari ini (situasi pandemik), serta solusi. Keseluruhan ragam peristiwa yang membaur dengan alam pikiran seniman dapat kita simak dan amati dari beragam karya-karya seni lukis dan seni patung dalam pameran tunggal Kyre ini. Tentu, melalui konsep ide dan konsep wujudnya, seni bisa menjawab—sekaligus pula melahirkan tanya. Lantas, seniman bisa berpikir seperti apa?

Sewon, 20 November 2020.

WHAT

Solo Exhibition by Oky Rey Montha

WHERE

Can's Gallery

WHEN

20 July - 20 August 2019