CAN'S Gallery

JL TANAH ABANG II No 25

JAKARTA PUSAT INDONESIA

+62 21 3451898 

  • Twitter - White Circle
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon

© 2017 by Can's Gallery. Proudly created with Wix.com

I........ Therefore I am

Ajeng Martia Saputri, Cecilia Patricia Untario, Citra Sasmita,Erika Ernawan, Ines Katamso x Sharon Angelia, Maharani Mancanagara,Meliantha Muliawan,Putri Fidhini,Rega Ayundya,Ruth Marbun,Sekar Puti,Sinta Tantra
Writer : Alia Swastika

 

I … THEREFORE I AM

Perempuan Menuju Tanah Harapan

 

Fenomena menarik yang muncul dalam diskusi-diskusi tentang feminisme dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada paruh kedua 2010an, saya kira adalah perdebatan yang semakin terbuka tentang posisi gagasan feminisme dalam kehidupan perempuan masa kini. Beberapa waktu lalu kita masuk dalam pusaran diskusi (sengit) tentang gerakan Perempuan Indonesia Tanpa Feminisme. Tentu saja provokasi untuk melihat feminisme dalam kerangka yang negatif bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Perlawanan terhadap feminisme hanya berubah bentuk dari waktu ke waktu. Tetapi, yang menarik, bagi saya, adalah bagaimana perlawanan dari para aktifis perempuan sendiri yang membalas dengan berbagai tulisan dan mendedahkan argumen historis dan teoretis tentang bagaimana teori feminisme dan gerakan perempuan telah berkontribusi besar bagi perubahan sosial. Sebagian besar tulisan dan argumen dimunculkan oleh feminis-feminis muda, dengan pembacaan konteks yang saya kira sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

 

Mengawali tulisan pengantar pameran ini dengan provokasi tentang feminisme, tentu tidak membuat pameran ini menjadi sebuah pameran feminis. Saya kira, tidak semua seniman dalam pameran ini juga setuju untuk menyebut diri mereka feminis. Atau sebagian akan menyatakan bahwa yang penting adalah tindakan yang feminis, bukan sekadar klaim tentang sebutan menjadi feminis itu sendiri. Saya sendiri tidak menjadikan pengantar ini untuk memperdebatkan bagaimana karya-karya dalam pameran ini dilihat dalam perspektif feminisme semata, tetapi saya kira penting untuk memprovokasi perdebatan ini dalam konteks seni rupa kita. Dengan membicarakan bagaimana seniman perempuan bekerja dalam kesadaran politik gender tertentu, kita akan dapat memasuki sebuah ranah diskusi yang lebih produktif untuk menjadikan praktik seni sebagai bagian dari gerakan sosial yang lebih luas.

 

****

 

Gagasan tentang menjadi ‘perempuan’ dalam masyarakat yang semakin kompleks sebagaimana yang kita hidupi sekarang telah berkembang sedemikian beragam. Menjadi perempuan adalah perkara memilih identitas apa yang akan dilekatkan pada diri kita. Berbeda dengan pandangan lampau yang melihat identitas sebagai sesuatu yang terberi, masyarakat kontemporer menandai identitas sebagai sebuah proyek hidup yang terus berubah dan tidak tunggal. Subjek individu membangun proyek diri secara berkelanjutan, dan melihat perubahan lingkungan sosial sebagai aspek yang memberikan kontribusi besar dalam konstruksi gagasan diri mereka. Tentu saja, dalam konteks pertumbuhan gagasan feminis, sekarang ini juga ada beragam pilihan tentang menjadi feminis itu sendiri, bukan justru melanggengkan stereotip yang merugikan dari konteks feminisme masa lalu.

 

Dengan evolusi gagasan tentang perempuan dari masa ke masa, kita bisa memilih sendiri identitas keperempuanan yang ingin kita proyeksikan pada diri kita. Ini tidak semata-mata memilih antara bekerja atau tidak bekerja, menjadi ibu atau memilih tak punya anak, bekerja di rumah atau bekerja di luar rumah, pertentangan-pertentangan yang dimunculkan sebagai steoreotip yang acapkali tidak produktif. Yang disebut sebagai pilihan identitas adalah hal-hal lain yang jauh lebih rumit dari pada pertentangan yang umum tersebut.  Dalam konteks tubuh, misalnya, perempuan pun bisa memilih identitas gender berdasarkan situasi biologisnya; misalnya menjadi perempuan hetero, menjadi homoseksual atau menjadi transgender. Masyarakat masa kini membuka pintu yang lebih toleran untuk pilihan-pilihan ini, meskipun ada banyak represi dan masih dibutuhkan perjuangan panjang agar pilihan mereka juga dilindungi oleh hukum.

 

Memperjuangkan identitas perempuan, merebut kembali hak-hak kita untuk mengekspresikan pemikiran dan identitas kita sendiri, dan membuka ruang berdialog satu sama lain, adalah urgensi-urgensi yang muncul di kalangan sebagian feminis masa kini. Dan tiga hal ini pula yang secara tidak langsung mempengaruhi atau mendorong tema-tema yang dipilih oleh seniman muda yang mengalami kompleksitas sosial hari ini. Tidak semua seniman secara langsung membicarakan tentang identitas keperempuanan atau mengajukan pertanyaan tentang apa makna menjadi perempuan; sebagian dari pertanyaan itu barangkali tersamar dalam konteks sejarah, pertanyaan atas filosofi hidup atau bahkan medium dalam seni rupa.

 

Karya Ruth Marbun dan Ajeng misalnya, berkait dengan medium yang mereka geluti dalam dunia seni rupa. Ajeng bekerja dengan material keras seperti resin, yang juga menunjukkan kecenderungan yang lebih industrial dan maskulin, sementara sebaliknya Ruth bekerja dengan kain-kain dan teknik menjahit (yang dalam sejarah seni sering dilihat secara stereotipikal sebagai medium seniman perempuan). Ruth mempunyai kesadaran untuk mempertanyakan mediumnya sendiri, termasuk juga perspektif yang seolah kerja menjahit sebagai aktivitas domestik dan feminin. Ajeng lebih mempertanyakan sifat-sifat resin sebagai material itu sendiri, dan kemudian mengaitkannya dengan bentuk-bentuk objek yang ia bayangkan. Dalam konteks seni rupa kontemporer yang menempatkan gender dalam arus utama, aktivitas menjahit tidak lagi dilihat sebagai aktivitas minor, dan sebaliknya resin tidak lagi menjadi ‘idola’ bagi para pembuat objek. Ruang-ruang seperti museum dan institusi seni semakin memberi tempat bagi seniman perempuan yang mengadvokasi medium-medium minor karena aktivitas membuat karya ini adalah sebuah ruang pertemuan sosial, meluas dari aspek “kerajinan tangan” yang sering melekat padanya. Dengan tindak afirmatif untuk melihat aspek sosial dan keragaman medium serta sejarah seni ini, sekarang seniman perempuan semakin diperhitungkan dalam kanon sejarah seni dunia, dan bahkan tidak ada pembedaan signifikan antara seni dan kerajinan tangan.

 

Regi Ayundya dan Puri Vindini mempertanyakan proyeksi identitas diri, yang berangkat dari pertanyaan besar: siapa kita? Puri menyelidiki dirinya sendiri melalui medium cermin, di mana menggunakan medium transparan dengan sendirinya memberikan ruang bagi pengunjung untuk melihat dirinya sendiri, dan membayangkan percakapan reflektif dengan diri. Metode ini terlihat sederhana, dan sepertinya pengunjung perlu untuk ditantang lebih jauh untuk memaknai proyeksi diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih jauh. Regi Ayundya, menjukstaposisi identitas seseorang dalam dunia nyata dengan apa yang terjadi dalam dunia digital. Hampir seluruh manusia pengguna internet membangun jejak digital mereka yang kemudian menjadi bagian dari identitas diri, sehingga sulit untuk ditarik batas antara identitas asli dan apa yang dibangun dalam dunia virtual. Hal ini mengarah pada pertanyaan selanjutnya, apa pula makna asli hari-hari ini. Rega juga menunjukkan bagaimana seniman perempuan juga memasuki ranah dan konsep teknologi sebagai titik berangkat dalam karyanya.Sekar Puti secara senada membicarakan tentang gagasan tentang diri, dalam konteks pertumbuhan mental. Dunia dalam (interior) subjek menjadi hal yang bagi Puti menarik untuk dibuka selubungnya, terutama karena pada ruang dalam inilah sebagian besar manusia menyembunyikan kebenaran dirinya di sana. Dunia masa kini menuntut individu untuk menampilkan diri sesuai dengan tekanan-tekanan sosial, dan ini sangat berpengaruh pada ukuran-ukuran yang sifatnya non material seperti kesehatan mental, keterhubungan sosial, dan sebagainya. Melalui karya-karya keramik yang ditampilkan, Puti mencoba merentang kemungkinan tentang bagaimana manusia bertahan dan bertumbuh secara mental.

 

Erika Ernawan dan Citra Sasmita menggunakan perspektif tentang pandangan (gaze) dan tubuh sebagai ruang membicarakan perempuan, meskipun dalam konteks yang berbeda. Karya-karya Citra membaca ulang bagaimana tubuh perempuan, terutama dalam konteks budaya patriarkh seperti Bali, di mana ia tinggal, dikaitkan dengan wacana seksualitas. Citra perempuan Bali yang dimunculkan dalam eksotisme seni di berbagai bentuk kanon tentang Budaya Bali yang diturunkan dari generasi satu ke generasi yang lain, membuat perempuan Bali sering kehilangan pemahaman atas tubuhnya sendiri. Melukiskan tubuh perempuan telanjang menjadi sebuah cara untuk memasuki pertarungan pemahaman dan kuasa itu sendiri, dan pada saat yang sama menggugat represi-represi sosial yang diletakkan pada tubuh perempuan itu. Dalam beberapa karya, Citra memasukkan simbol-simbol peran perempuan yang multi, sebagai ibu (misalnya simbol ari-ari untuk kelahiran). Sementara konsep ‘pandangan’ (gaze) dalam karya Erika Ernawan muncul dalam bentuk yang menolak konstruksi mapan tentang bagaimana tubuh dipandang sebagai objek. Gagasan tubuh muncul sebagai representasi dari pengalaman fisik, sehingga ia dimaknai secara personal oleh seorang individu dan karenanya pemaknaan menjadi hal yang sangat spesifik. Telapak tangan, wajah dan beberapa bagian tubuh muncul sebagai kejutan dalam bidang karya-karya Erika.

 

Objek serupa phallus terbuat dari kaca dipresentasikan oleh Patricia Cecilia Untoro untuk menunjukkan bagaimana pembicaraan tentang seks masih menjadi hal yang tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dengan menampilkan phallus di satu sisi Patricia ingin mendobrak tabu tersebut, tapi di sisi lain juga menempatkan phallus sebagai titik berangkat untuk menggugat maskulinitas dan dominasi budaya patriarkhis.

 

Gagasan tubuh yang dikontestasikan dalam seni dapat ditemui pada karya-karya Inez Katamso yang berkolaborasi dengan fotografer Sharon Angelia. Gagasan ideal tentang tubuh didistorsi dengan menciptakan imaji yang membuat seolah lengan menjadi lebih panjang, memiliki 3 kepala dengan 2 pasang kaki, dan hal lainnya yang tidak bisa dilihat di dunia nyata. Konfigurasi ini kemudian ditangkap oleh Sharon Angelia menjadi sebuah foto, yang bagi mereka seperti sebuah bukti bahwa seni selalu melewati realitas yang ada. Inez dan Sharon menunjukkan bagaimana identitas tubuh melalui teknologi dan program digital bisa membuat konstruk kenyataan yang baru, atau menantang persepsi kita tentang tubuh manusia.

 

Sinta Tantra mengalami dunia lingkungan sosial budaya dalam identitasnya sebagai bagian dari masyarakat Bali dan warga dunia yang hidup dalam kota multikultur seperti Inggris. Ketimbang terombang-ambing dalam keterbelahan, Sinta Tantra justru menggunakan identitas yang jamak ini sebagai sebuah cara yang produktif untuk menggali beragam tradisi dan latar belakang sebagai titik berangkat karyanya. Melalui karya-karya geometris dan pengkomposisian warna, Sinta Tantra membagi pengalaman melihat konteks-konteks dua kebudayaan yang berbeda, dan juga membawanya dalam pembacaan terhadap situasi budaya lain yang ia masuki. Karya-karyanya menerjemahkan pengalaman melihat dan mengalami menjadi bidang garis dan warna di atas kanvas, memberi gagasan yang lebih naratif tentang kecenderungan abstrak.

 

“I … Therefore I am” adalah ekspresi dari kebebasan perempuan untuk dapat melakukan tindak yang sesuai dengan kehendaknya sendiri, dan mencapai tujuan-tujuan yang digariskannya sendiri. Jika pada konteks filsafat I think Therefore I am menunjukkan pemikiran sebagai dasar bagi tindakan manusia, maka dalam konteks ini bisa diperluas lagi dengan mengisi bagian yang kosong itu sesuai dengan apa yang ingin dilakukannya. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini mempunyai visi dan proyeksi atas kebebasan perempuan sebagai individu, melalui pemikiran tentang tubuh, tentang sejarah ketrampilan perempuan, pencatatan pengetahuan, dan sebagainya.

 

****

Seniman-seniman dalam pameran ini secara beragam menunjukkan sikap-sikap generasi baru terhadap isu-isu yang mereka hadapi dan pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Memang tidak secara langsung kita melihat problem sosial yang berkait dengan situasi perempuan dalam karya mereka—narasi tentang kekerasan terhadap tubuh, ketertindasan, atau lainnya. Generasi ini seperti masih mencari cara untuk mengartikulasikan cara pandang mereka tentang dunia, sehingga belum tampak sikap politik yang kuat terhadap isu-isu gender, perempuan dan feminisme dalam karya-karya mereka. Beberapa mulai memasuki luasnya soal gender dalam perspektif personal mereka yang spesifik, tetapi rasanya perlu terus didorong untuk dapat menunjuk, mengidentifikasi atau merefleksikan situasi-situasi di luar diri mereka.

 

Dalam gerakan feminisme baru, ada satu bentuk baru yang disebut sebagai xenofeminisme, di mana persoalan ekologi, teknologi, pasca-manusia (post-human), rasionalisme, materialis feminisme dan sebagainya, menjadi isu-isu yang didiskusikan mendalam. Generasi feminis muda menyadari pentingnya teknologi sebagai upaya untuk menyebarkan kesadaran atas keadilan gender, dan pada saat yang sama melihat ancaman terhadap lingkungan dan kemanusiaan yang harus dimunculkan sebagai urgensi bersama.

 

Generasi seniman yang muncul dalam pameran ini adalah bagian dari mereka yang sedang menuju tanah harapan. Seniman-seniman ini saya kira mempunyai akses untuk menjadi bagian dari kelompok muda yang berbicara tentang dunia, dan berbagi kegelisahan tentang diri mereka sebagai wujud dari refleksi atas masa depan manusia.

‚Äč

WHAT

I........ Therefore  I am

WHERE

Can's Gallery

WHEN

20 July - 20 August 2019